Realita

Rasanya kayak lagi di puk-puk sambil dibisikin, “Iya,

sedih kok. Nangis aja, gapapa. Selepas sekian

keadaan kamu ngelewatin tanpa tawa, kamu

sudah sampai di sini. Terima kasih sudah bertahan. Ini

udah jauh, jauh banget. Suatu keadaan berat yang

mungkin orang lain nggak akan bisa sejauh kamu.

Terima kasih.”

 

Aduh, ancur. Tapi harus berdiri.

Tentang kenapa aku senang bertingkah seperti

anak kecil di waktuku dewasa ini..

Sebab kecilku dipaksa dewasa.. Dipaksa

memahami hal-hal yang seharusnya aku tak

hadapi..

Dipaksa mengerti bahwa rumah sering kali

gemuruh..

Didewasakan oleh luka.. Ditempa bahwasanya

masalah adalah milik manusia, tanpa mengenal

usia..

 

Terima kasih semesta.. Aku hanyalah anak kecil..

Yang telah lama dewasa..

Ini semua untuk kita. Jiwa tua yang terpenjara di

kecilnya badan yang tak pernah sembuh dari

semua luka.

 

Tuhan, dunia memang terkadang kejam, tapi aku

nggak mau ikut-ikutan.

Komentar

Postingan Populer